Dari Budidaya hingga Manajemen Usaha, Petani OAP Kabupaten Sorong Belajar Pertanian di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL – Praktik pengembangan pertanian di Kabupaten Gunungkidul menjadi tujuan belajar 16 petani Orang Asli Papua (OAP) dari Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. Melalui kegiatan studi tiru, para petani tersebut mempelajari berbagai aspek usaha pertanian, mulai dari budidaya, pengolahan hasil hingga manajemen usaha tani sebagai bekal membangun kemandirian di daerah asal.

Gambar 1. Rombongan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sorong saat diterima Bupati Gunungkidul

Rombongan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sorong terlebih dahulu diterima oleh Bupati Gunungkidul di Kantor Bupati Gunungkidul. Selanjutnya, kegiatan studi tiru dilanjutkan dengan penerimaan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul di Ruang Rapat UPT Taman Teknologi Pertanian (TTP) Nglanggeran, Selasa (3/11/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul menyampaikan berbagai pengalaman dan praktik pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Gunungkidul sebagai bekal awal bagi rombongan untuk mendalami pengelolaan usaha tani melalui kunjungan lapangan.

Gambar 2. Penerimaan rombongan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul

Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui kunjungan ke sejumlah lokasi pengembangan pertanian. Di UPT TTP Nglanggeran, para peserta berkesempatan melihat proses pengolahan biji kakao menjadi berbagai produk olahan. Rombongan juga mengunjungi Putat Agrocenter untuk mempelajari budidaya hortikultura. Sementara itu, pada agenda hari berikutnya, mereka dijadwalkan mengunjungi usaha pertanian milik Alan Effendi, petani milenial di Kapanewon Nglipar yang mengembangkan budidaya sekaligus pengolahan lidah buaya (aloe vera).

Gambar 3. Petani AOP mengamati proses pengolahan biji kakao di UPT TTP Nglanggeran
Gambar 4. Kunjungan Petani AOP ke Putat Agrocenter

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sorong, Frengki Y. Wamafma, S.Hut., M.Si., mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi para petani untuk belajar melalui pengalaman langsung. Mereka diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat mempraktikkan apa yang dipelajari setelah kembali ke daerah asal.

“Tujuan kami datang ke Gunungkidul adalah membawa teman-teman kelompok tani untuk studi tiru. Mereka datang ke sini untuk belajar, mendengar, melihat, lalu mempraktikkan sendiri apa yang mereka dapatkan di sini. Harapannya cuma satu, mereka kembali dan bisa menjadi petani mandiri yang tidak lagi bergantung kepada bantuan dari pemerintah,” ujar Frengki.

Selain teknik budidaya, manajemen usaha tani menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam kunjungan tersebut. Menurut Frengki, petani perlu memiliki kemampuan mengelola modal, menghitung biaya produksi dan perawatan, hingga mengetahui hasil bersih yang diperoleh dari kegiatan usaha tani.

Gambar 5. Kunjungan lapangan Petani AOP di lahan Putat Agrocenter

“Yang paling penting juga, bagaimana mereka melihat proses manajemen usaha taninya. Jujur saja, buat kita di Papua, ini memang sesuatu yang membutuhkan proses agak panjang, soal manajemen usaha tani,” katanya.

Ia menjelaskan, pengelolaan usaha tani harus memperhitungkan seluruh pengeluaran sejak awal, mulai dari pembelian benih, biaya penanaman, perawatan, pengendalian hama hingga kebutuhan obat-obatan. Setelah panen, petani juga perlu menghitung hasil yang diperoleh dan menyisihkan sebagian untuk modal usaha berikutnya.

“Katakanlah mereka punya modal sekian, mereka beli benih, mereka nanam, ada biaya perawatan, untuk hama, obat-obatan, dan lain-lain. Setelah itu mereka panen, hasilnya berapa yang harus mereka sisihkan untuk proses manajemen? Ini yang nanti bisa mereka lihat langsung dan pelajari dari petani-petani kita yang ada di sini, sehingga harapannya mereka kembali dan bisa melakukan hal yang sama,” ungkapnya.

Frengki menambahkan, bantuan pemerintah tetap diperlukan sebagai stimulan atau pemantik awal pengembangan usaha pertanian. Namun, kemampuan petani dalam mengelola usaha secara mandiri menjadi tujuan yang ingin dicapai dalam jangka panjang.

Melalui kunjungan ini, praktik pengembangan pertanian di Gunungkidul diharapkan dapat menjadi referensi bagi para petani Kabupaten Sorong. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selanjutnya dapat disesuaikan dengan potensi serta kondisi wilayah setempat, sehingga mampu mendorong usaha tani yang lebih efisien, mandiri, dan berkelanjutan.

Previous Dua ASN Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Raih Juara DTA 2026, Angkat Budaya Lokal dan Inovasi Pelayanan

Leave Your Comment